Sebelum Mulai Bacalah....

Sebelum Mulai Bacalah....
Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang

PRINGSEWU DIGANYANG CIKUNGUNYA

PAGELARAN - Mayoritas penduduk di tiga desa,masing-masing di desa Fajar Mulya, Fajar Baru kecamatan Pagelaran dan Desa Suka Mulya Kec. Banyumas terserang wabah cikungunya. Setidaknya sejak sebulan yang lalu warga mulai merasakan gejala yang mengindikikasikan penyakit cikungunya. Dan sampai hari ini, korban yang diakibatkan oleh gigitan nyamuk aides aegepty ini terus bertambah.

Seperti halnya yang dialami Parjuli (55) warga Dusun Talang Jawa Desa Fajar Baru Kec. Pagelaran, dirinya mengaku sudah beberapa hari ini juga terserang cikungunya, walau awalnya ia tidak tahu kalau sakit yang dideritanya adalah cikungunya. "Tadinya saya hanya merasa dingin saja, kemudian kaki terasa linu sampai ke tulang, diikuti pembengkakan pada kaki dan jari tangan, sampai puncaknya saya tidak bisa bergerak sampai tiga hari". Parjuli menambahkan, selain dirinya mayoritas penduduk yang terhitung masih tetangganya satu dusun juga banyak yang terserang. “Gejala yang ditimbulkan sama, tapi kami belum tahu kenapa sebabnya”, katanya.


Hal serupa juga dialami Sukati (50) warga Desa Fajar Baru, kendatipun dirinya kini sudah mulai bisa berjalan, namun rasa nyeri dan sulit bergerak masih terasa di kedua kakinya. Dirinya mengaku juga terkena wabah ini sejak dua minggu yang lalu. “Mulanya terasa nyeri pada bagian persendian, saya kira hanya reumatik, tapi ternyata kaki saya mengalami pembengkakan”, akunya.

Parjuli dan Sukati adalah sebagian dari sekian banyak warga yang terserang penyakit cikungunya. Dari pantauan wartawan koran ini setidaknya hampir 80% warga di 3 desa tersebut. Terkait campur tangan Pemerintah Daerah Kab. Pringsewu, masih menurut keduanya, Parjuli dan Sukati menyatakan sampai hari ini belum mendapatkan tindakan medis seperti penyuluhan dan fogging focus dari pihak pemerintah ataupun puskesmas setempat yang turun ke desanya, padahal hampir tiap KK didusunnya yang terdiri dari sekitar 60 KK terserang penyakit bawaan nyamuk aides aegepty ini. “Belum ada yang turun mas, kami kalau berobat ya sendiri-sendiri, itupun jauh harus ke Kecamatan Banyumas, karena di desa ini tidak ada mantri. Jadi kalau yang tidak punya uang ya hanya istirahat dirumah saja”, kata Sukati kepada koran ini.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kab. Pringsewu dr. Endang Budiati saat dikonfirmasi menanggapi kasus ini menyatakan pihaknya telah turun ke lapangan dan melakukan beberapa tindakan yang semestinya. “Kami sudah turun ke Desa Fajar Mulya, dari 250 penderita sudah tertangani. Kami juga sudah melakukan fogging focus, penyuluhan, dan abatisisasi di desa tersebut. Sedangkan kasus di desa Fajar Baru belum kami ambil tindakan karena jumlahnya yang lebih sedikit dibanding yang ada di desa Fajar Mulya”, paparnya. Lebih jauh dirinya menjelaskan, wabah cikungunya ini akan bisa teratasi jika faktor-faktor yang meliputi Perilaku Masyarakat, Lingkungan, Jentik, dan Pelayanan Kesehatan dapat berjalan secara optimal. Dirinya juga meminta kepada masyarakat agar Program Pemberantasan Sarang Nyamuk Menguras Membersihkan Mengubur Plus (PSN3M Plus) dibudayakan di lingkungan masyarakat. (Son)

Baca Selengkpnya.....

SMP Negeri 3 Gadingrejo Ambruk

Pringsewu - Tanggal 17 Agusutus yang merupakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI semesti dirayakan dengan semangat kebangsaan dan suka cita oleh seluruh rakyat Indonesia. Namun sepertinya hal ini tidak berlaku bagi warga Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 3 Gadingrejo, Kab. Pringsewu. Pasalnya pada 17 Agustus 2009 malam sekitar pukul. 23.00 WIB gedung sekolah yang biasa digunakan untuk ruang belajar roboh tanpa ada sebab yang jelas.


Menurut penjaga sekolah tersebut, Wakidi, peristiwa ambruknya atap bangunan gedung tersebut bermula sekitar pukul 09.00 WIB, saat itu dirinya seperti mendengar bunyi kayu yang akan patah dari gedung yang ditempati untuk belajar kelas VII D, VII E dan VII F. Kemudian Wakidi langsung menelpon Suharsono yang tidak lain adalah Kepala SMP N 3 Gadingrejo dan mengabarkan kalau gedung tersebut sepertinya akan roboh. Sekitar pukul 21.30 WIB, Suharsono sampai di sekolah untuk memastikan kabar yang diterima dari Wakidi. Dan ternyata benar, bunyi retaka kayu penyangga atap bangunan yang terletak tepat di depan ruang guru tersebut, semakin menunjukkan tanda-tanda akan roboh. Setelah sekitar 2 jam lebih bunyi retakan tersebut terdengar, akhirnya kayu penyangga atap tersebut tak mampu lagi menahan beban di atasnya, dan atap yang menutupi ruang kelas VII D ambruk.

Hal tersebut dibenarkan oleh Suharsono, Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Gadingrejo. Dirinya menyatakan kalau kejadiannya memang malam hari, sekitar pukul 23.00 WIB. Saat itu, sekitar pukul 09.00 WIB saya masih dirumah, kemudian ditelepon oleh Pak Wakidi kalau terdengar suara retakan kayu dari lokal VII D, VII E, dan VII F. Kemudian saya langsung menuju lokasi, dan ternyata memang benar kalau itu adalah suara retakan kayu yang kemungkinan atap gedung akan roboh. Melihat kejadian tersebut, saya tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa menyaksikan karena juga takut. Sekitar pukul 22.30 saya kembali ke rumah, dan sesaat kemudian Pak Wakidi menelpon saya dan mengabarkan kalau gedung sudah roboh.
Lebih lanjut, Suharsono menambahkan, beruntung kejadiannya malam hari, jadi tidak ada korban jiwa. Selain itu, sebenarnya saya masih belum percaya kalau gedung tersebut bisa roboh, pasalnya gedung yang dibangun setahun yang lalu sebelum saya menjabat kepala sekolah disini, tampilan fisiknya masih terlihat sangat bagus, bahkan boleh dikatakan gedung tersebut merupakan gedung yang paling baru dari sekian gedung yang ada di sekolah ini.

Akibat peristiwa tersebut, sedikitnya 120 siswa menjadi korban, siswa kelas VII D yang atapnya roboh terpaksa di pindahkan ke kelas lain, termasuk siswa kelas VII E, dan VII F yang masih satu bangunan dengan kelas VII D juga di pindahkan dengan alasan keamanan. Dua ruang sementara pun di gunakan sebagai kelas, Laboratorium IPA dan GSG Sekolah. Sementara itu, jumlah kelas VII yang semula berjumlah 7 kelas dipadatkan menjadi 6 kelas. Dan di bangunan runtuh terbut nampak pula dipasang pengumuman yang mengingatkan para siswa untuk tidak mendekati bangunan.

Peristiwa ini sudah dilaporkan ke Dinas Pendidikan Kab. Pringsewu di Pringsewu. Sementara itu, Panitia Pelaksan Pembangunan, saat ini masih dimintai keterangan di Mapolsek Gadingrejo, Kab. Pringsewu. (Son)

Baca Selengkpnya.....

Modul KKPI

Download Modul KKPI dibawah ini :

Modul I
"Mengetik 10 Jari" Klik Disini

Modul II
"Mengidentifikasi dan Mengoperasikan Komputer Personal" Klik Disini

Modul III
"Mengoperasikan Periferal" Klik Disini

Modul IV
'Mengoperasikan Perangkat Lunak Pengolah Kata" Klik Disini

Modul V
"Mengoperasikan Perangkat Lunak Lembar Sebar" Klik Disini

Modul VI
"Mengoperasikan Perangkat Lunak Presentasi" Klik Disini

Modul VII
"Mengoperasikan Perangkat Lunak Basis Data" Klik Disini

Modul VIII
"Internet" Klik Disini

Modul IX
"Mengelola Informasi" Klik Disini

Sumber : Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia

Baca Selengkpnya.....

Materi Mata Kuliah Power Point


PERTEMUAN KE-1

Pertemuan ke-1 berisi gambaran umum tentang Microsoft Powerpoint 2007 yang merupakan pengembangan dari Microsoft Power Pint 2003. Di dalamnya memuat tentang penjelasan fitur dan menu pendukung aplikasi presentasi ini. Untuk lebih jelasnya Klik Disini untuk Modul 1, kemudian Klik Disini Lagi untuk Modul 2, dan Klik Disini Lagi Donk untuk modul 3.

PERTEMUAN KE-2
Pertemuan ke-2 berisi tentang teknik memulai pembuatan presentasi. Untuk Download Klik Disini.

Baca Selengkpnya.....

BEM STMIK Pringsewu Temukan Banyak Pelanggaran

Sebanyak 30 orang mahasiswa yang tergabung dalam Tim Pemantau Independen Pemilu Legislatif 2009 menemukan banyak pelanggaran yang terjadi pada saat pemungutan suara di wilayah Kabupaten Tanggamus. Kebanyakan pelanggran yang ada terjadi di daerah-daerah yang jauh dari perkotaan (wilayah terpencil), misalnya seperti di Kecamatan Cukuh Balak, Pematang sawa, Ulubelu, dan Semaka.

Tim pemantau yang kesemuanya merupakan mahasiswa dari Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Pringsewu ini bertugas di seluruh Kecamatan yang ada di Kabupaten Tanggamus. Dengan metode pemantauan random sampling di beberapa TPS yang ada.

Terkait temuan pelanggaran di lapangan Koordinator Pemantau, Sonianto mengungkapkan secara umum pelanggaran terbanyak terjadi di plosok desa, mungkin karena faktor SDM dan memang letaknya yang jauh dan susah dijangkau sehingga pemungutan suara di desa terkesan luput dari pantauan pihak berwenang.

Sampai hari ini, tim pemantau sudah menemukan berbagai macam indikasi pelanggaran tersebut. Diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Di Kecamatan cukuh balak
Setidaknya telah terjadi penggelembungan surat suara di TPS 2 Pekon Sukaraja. Dimana indikasi pelaku adalah petugas KPPS sendiri. Menurut anggota Tim Pemantau Independen yang berada di lokasi pada saat hari pemungutan suara. Tri Sutrisno menyatakan, jumlah undangan yang hadir pada saat itu adalah sebanyak 117 mata pilih, namun ketika akan diadakan rekapitulasi suara ternyata di dalam kotak suara ada 421 kertas suara. Ini berarti ada 304 suara yang fiktif. Menurut pengakuan tim lapangan, ada oknum caleg yang bermain di belakangnya yang memang berniat membeli suara dari TPS ini.
Selain itu, kericuhan lain yang terjadi di Kecamatan cukuh balak adalah adanya pemilih fiktif yang diduga berasal dari daerah lain, hal ini terjadi di pekon (desa) Putih Doh kecamatan setempat.

2. Di kecamatan Kelumbayan
Perlu diketahui kecamatan ini merupakan kecamatan yang paling jauh jarak tempuhnya dari Ibukota Kabupaten Tanggamus. Maka tak heran, jika di kecamatan ini juga terindikasi pelanggaran dalam proses pemungutan suara. Dari pantauan tim yang ada di lokasi, dapat disimpulkan bahwa moto pemilu "LUBER dan JRDIL" tidak bisa dikatakan tidak terterapkan disana. Mengapa demikian, pasalnya diantara para pemilih dan petugas KPPS tidak ada lagi kerahasiaan dalam penanganan surat suara. Akibatnya, para pemilih bisa saja terprovokasi dan terpengaruh oleh pihak-pihak yang memang mempunyai kepentingan pribadi.

3. Di Ulubelu
Masa pemungutan suara bukan berarti bebas dari atribut partai dan caleg, buktinya di kecamatan ini. Sejumlah atribut dan gambar caleg masih terpampang di sekitar TPS. Walaupun hal ini secara kasat mata tidak mempengaruhi para pemilih, namun secara psikologi tentu hal ini sangat berpengaruh.

4. Di Sumberejo
Ada hal yang menarik di kecamaan ini. Perlu diketahui bahwa kecamatan Sumberejo merupakan wilayah Daerah Pemilihan 2 untuk Kabupaten Tanggamus. Namun pada saat pencontrengan justru mayarakat di DP 2 ini malah disuguhi kertas suara DPRD Kabupaten untuk DP 1. Aneh ga sih.....?????

Baca Selengkpnya.....
Template telah melalui beberapa modifikasi Design By : Kendhin